TERBIASA DIAM
SEPI! selalu
seperti ini, hidup ku berjalan cukup monoton langkah ku entah kemana harus ku
entak kan aku kehilangan arah, aku kehilangan separuh jiwa ku yang luka,
terbang bersama angin dan entah kemana dia akan pergi, aku kehilangan rasa
semuanya seakan mati, satu persatu orang yang aku kasihi pun mulai pergi entah
karna aku terlalu tertutup atau mereka bosan dengan teka teki yang sengaja aku
buat sendiri, aku seperti berjalan di lorong hitam yang gelap,terus dan akan
terus berjalan mencari cahaya. aku masih duduk di bangku XI-social II, kelas
yang tepat di depan nya adalah lapangan basket, disana selalu ada pemandangan
yang aku tunggu, pemandangan yang jelas selalu membuat aku diam diam tersenyum,
termangu bahkan menyimpan tawa.
Seragam
putih abu abu ini tak begitu aku nikmati, riuh tawa yang tercipta di sudut
kelas membuat ku pusing dengan kebisingan yang mereka ciptakan, mereka mengusik
damai ku, mereka mengusik diam ku, entah mengapa seharian ini tak ada aktivitas
belajar mengajar aku rasa semua guru rapat. Dan seperti itulah jika tidak ada guru yangg masuk satupun
pasti ribut pedahal tugas menumpuk.
kaki ini ku langkahkan menuju pintu dan keluar
mencari damai ku di tempat lain, ya taman biasanya jam jam seperti ini taman
belum ramai atau bisa saja tidak ada orang disana karna sebagian siswa sibuk
dengan tugas tugasnya dan sebagian lagi sibuk dengan keributan mereka masing
masing, tubuhku, ku hempaskan bebas ke tanah, tepat dibawah pohon membaca novel dan ditemani lagu yang bernyanyi riang bersama angin, aku
sengaja tak memakai earphone agar kesan sendiri ini tak terlalu terasa, entah
telah berapa lama aku dibawah pohon ini hingga ku rasa ada sepasang kaki yang melintas tanpa permisi di
depan ku, aku lirik sejenak gondrong nya, postur tubuh nya, tinggi nya, cara
dia berjalan iya aku tau dia, dia yang selalu aku lihat diam diam di balik kaca
jendela kelasku, pemandangan yang selalu aku tunggu yang kerap memanjakan kedua
mataku dengan dribble gribble dan semua permainan yang ia buat, aaa ia seperti
membunuh ribuan sel di otak ku, menghancur kan akal sehatku, tiba tiba di arah
sana berlari seorang wanita terponggoh ponggoh menyadar kan ku dari lamunan ”ta
gila pergi gitu aja, catetan tuh numpuk” cerocos teman sebangku ku yang satu
ini dia denur teman yang selalu sabar dengan semua teka teki ini. “oke pasti
aku salin semua nya”jawab ku sekenanya sambil berdiri membersihkan rok dari
kotor yang menempel akibat aku duduk itu dan kembali ke kelas bersama denur,
lonceng telah berbuyi semua siswa serentak membereskan alat tulis mereka dan
satu persatu dari mereka mulai pergi meninggalkan ku yang masih engan pulang
hingga pemandangan yang selalu aku tunggu itu datang memberi buliran buliran
rasa yang menjadikan aku kembali hidup, setelah mereka yang hanya menyimpan
luka pergi“ pulang duluan ya ta” suara denur dan lambayan tangan nya ku balas
dengan senyuman, tinggal aku sendiri disini, aku mulai mengerakan jari jemari ku
menyalin semua catatan yang ada di buku tugas denur hingga aku lihat di tengah
lapang sana 4 orang lelaki sedang tertawa riang, seperti ada lelucon konyol
yang membuat kulit perut mereka mengeliat, ada sosok itu disana entah siapa
namanya yang aku tau dia adalah pahatan paling sempurna yang dibuat tuhan
dimataku, dada bidang nya dan semua permainan tangan nya membuat angan ku
melayang kesana
dan harapan ingin ku melabuhkan peluh di peluk
nya dan merasakan hangat rengkuhan tangan nya itu seketika menghantui otak ku,
itu adalah harap yang terlalu tinggi, aku masih saja engan mengalihkan
pandangan ku, hal hal seperti ini yang bisa memanjakan kedua mataku dan bahkan
memberi rasa yang tak boleh aku sia sia kan.pemilik sepasang mata yg aku kagumi itu menatap ku lalu ia tersenyum, aku terkaku
lalu tersenyum kecil dan menunduk malu
seolah aku hanya memberikan tatapan biasa tapi sepasang mata itu, ia menatap ku
ia tersenyum pada ku, aku seakan dibawa terbang dan menari di atas awan,
sebelum pulang ku sempatkan curi curi pandang tapi sosok itu tak lagi bersama
teman temannya, mata ku menyapu semua sudut lapang basket tapi dia tetap tidak
ada dan perlahan aku mulai meninggalkan
sekolah ini. Dan “hey” suara itu menghentikan langkah ku, “kenalin aku wigan”
seru nya kemudian sembari menyodorkan tangan nya, aku masih saja bungkam, aku
seperti lupa bagaimana cara nya berbicara “hey kok diem nama nya siapa” seru
nya kemudian dgn tangan yg ia tarik kembali “oh oke kalo gitu aku tinggal dulu
ya inget wigan kls XII-ipa 2 udah di tunggu temen temen tuh” belum sempat aku
menjawab ia sudah pergi dan berlari kecil sambil setengah berteriak
meninggalkan ku, aku kembali melangkahkan kaki ku meski sebenarnya kaki ku ini
sulit untuk selangkah saja meninggalkan
sosok itu.
Malam ini
kejadian siang tadi membuatku tak bisa tidur, sosok itu seketika seperti hadir
didepan ku dengan senyum nya yang manis dan rambut gondrong nya yang membuat
siapapun wanita itu pasti jatuh cinta, termasuk aku.
Andai waktu
itu bisa aku hentikan waktu, lalu aku abadikan moment yang takpernah
terbayangkan sedikit pun oleh akal
pikiran ku ini, dimana aku yang selalu mengagumi diam diam dan menaruh harap
agar tangan nya adalah tangan yang akan menggenggam erat tangan ku.
*
Keesokan
pagi nya di kantin sekolah dekat parkiran aku mengaduk aduk susu yang sejak
tadi ku pesan, menunggu denur biasanya tak selama ini, aku bosan di buat
menunggu oleh nya sampai akhirnya dia pun datang dari arah parkiran “sorry yah ta lama , abis nya aku kesiangan” ucap denur
dengan sedikit cengengesan ny, aku tersenyum kecil “ga apa apa kok nur tenang
aja kali udah biasa juga” lalu pergi
bersama denur meninggalkan kantin, namun di sebrang sanah aku lihat wigan, dia
sedang memarkirkan sepeda motor nya tangan nya mengibas ngibas rambut gondrong
nya.
“oh iya ta
lo kemarin pulang jamber?, hoby banget diem di sekolah” selidik denur dengan
tatapan nya yang seolah sedang mengintrogasi penjahat kelas kakap mengambil alih focus ku dari wigan
“biasa aja liat
nya nur” jawab ku risih dengan tingkah nya
“ya kalo
gitu jawab, aku mau tau ta”
“karna
pulang sekolah, selalu ada pemandngan yang indah dan langka”jawab ku dengan
senyum kecil menatap denur
“teka teki
lagi, bosen tau ta lo tuh kebanyakan teka teki pada akhir nya nyesel sendiri
deh” ucapan denur kali ini membuat ku cukup diam dan membisu kata kata yang
terakhir dia ucapkan tentu membuat aku paham “pada akhirnya nyesel deh” kata
kata itu adalah kata kata yang sama yang di ucapkan dia yang meningglkan ku
hingga aku engan bicara cinta terbiasa diam dan menutup diri, aku melangkah
sambil meremas bahu denur pelan “aku pergi dulu ya nur, pelajaran pertama bolos
dulu deh” belum sempat denur menjawab aku sudah pergi duluan berlari
meniggalkan nya. Kaki ini ku arahkan menuju taman belakang, tempat dengan
berbagai rasa yang aku tumpah kan disini dari pertama masuk hingga saat ini, tempat yang menjadi saksi aku menangis diam
diam dengan kesendirian ku, tempat yang menjadi kan kertas kertas dalam diary
miliku ini ada, tulisan tulisan tentang cinta, duka dan tawa, termasuk orang
yang mulai aku kagumi diam diam sejak mopd dan orang yang sama juga yang mulai
diam diam aku cintai dia adalah wigan,
namun terkadang aku rasa semua harap itu terlalu tinggi aku ingin membuang rasa ini jauh, namun semakin aku ingin membuang rasa ini
jauh justru rasa itu semakin dalam bahkan nama nya terpatri di dalam hati ku.
Aku membuka buku yg sejak tadi aku bawa di halam awal tertulis “suatu rasa di
dalam ruang yg di sebut hati” satu demi satu lembaran itu ku buka hingga akhir
nya jari jemariku mulai merangkai kata
“
jika aku terlalu bodoh mengagumi dan
mencitaimu diam diam hingga berbulan bulan bahkan menapak tahun, aku rasa ini
bukan lah suatu yang bodoh tapi suatu kekuatan hati, dimana rasa ini harus aku simpan
sendiri sampai akhirnya suatu keajaiban menimpa mu dan kamu mengetahui bahwa
aku sudah lama menyimpan rasa untuk mu, ketahuilah kesendirian ini membuatku
engan berbicara tentang cinta pada siapapun itu terkecuali lewat tulis dan
isyarat yang mungkin orang orang anggap
semua itu terlalu tolol, bodoh konyol dan idiot, tapi ketahuialah aku selalu
menyimpan harap agar cincin yang kelak melingkar di jari ku bertuliskan nama mu
wigan brahmanto”
buku ini kembali ku tutup, mata ku
menatap jauh kesana, di celah celah daun ku lihat ada sepasang mata yg
memperhatikan ku entah sepasang mata milik siapa itu aku bergegas membereskan
semua buku dan beberapa foto milik wigan yang aku curi diam diam jika dia
sedang latihan, dan bergegas pergi meningglkan tempt ini, berlari kecil
menyusuri lorong lorong menuju kelas ku,
sesampai nya di pintu ku lihat belum ada guru pelajaran kedua yang masuk, aku
bergegas menuju bangku yang aku tempati disana ada denur yang sibuk dengan
handphone nya “cieeee cieee lagi sibuk nih sama sosmed” ledek ku ketika denur
tak menyadari sama sekali kehadiran ku “eh ta udah dateng aja, hehe iya nih
lagi ngegodain wigan hahaha” jawab nya enteng dengan tawa yang tak lepas dari
wajah nya, aku tersentak endengar nama itu, wigan ? apa wigan ? yang seringkali
ku sebut pria ? wigan yang aku cintai diam diam ? wigan yang aku kagumi sejak
hari pertama mopd ? wigan pria brahmantoro ? iya apa wigan yang denur maksud
adalah wigan yang sama ? tubuh ku seketika lunglai tatapan ku buram haruskah
aku kehilangan orang yang aku sayangi sejak lama ini untuk kedua kali nya ?
menyimpan rasa ini sendiri ? mengubur semua nya dalam dalam ? iya untuk yang
kesekian kali nya ? bibir ku kaku aku tak bisa menjawab setiap kata yang
terlonar dari mulut denur “ta wigan ganteng ga sih menurut kamu ?”
“ta wigan keren ga sih”
“ta kenapa ga jawab ?”
“ta lo denger ga sih ta ?”
Semua pertanyaan denur seakan menusuk
sukma ku, tanpa menjawab semua pertanyaan denur satu pun aku bergegas pergi
meninggalkan dia, berlari dan entah kemana langkah ini akan berhenti hingga
kaki ini berhenti di depan deretan tangga menuju gedung paling atas sekolah,
kaki ini kembali ku gerakan hingga akhirnya aku berada di atas gedung, aku
ingin berteriak sekeras mungkin disini, menangis sepuasnya, mencurahkan semua
rasa yang ada, ingin aku tumpahkan semua disini berharap semua nya akan menjadi
lebih baik, namun untuk berkata pun aku tak bisa yang hanya bisa aku lakukan
hanyalah menangis dalam diam berharap rasa itu seketika mati, paandangan ku
lurus jauh kesana disana ada bayangan yang menari nari, pemandangan yang sering
kali ku nikmati dikala siswa siswi lain justru hendak pergi meninggalkan
sekolah, wigan iya wigan, pria itu ? aku berusaha sekuat tenaga menghapus nama
itu, tapi semakin aku berusaha menghapusnya justru nama itu semakin melekat
dama hati dan pikiran ku. Hari mulai panas aku memilih untuk meminta izin
pulang kepada guru piket dengn alasan ada urusan keluarga, aku terpaksa
berbohong untuk ini, aku tak mungkin mengikuti pelajaran yang berlangsung hari
ini jika pikiran ku saja tak bisa ku ajak kompromi, semuanya kalut
Sesampainya di rumah aku bergegas
menuju kamar dan menghempas kan kasar tubuh ku ke kasur, seberapa kuat pun
bendungan yang aku buat ini, tetap lah air mata ini berlomba lomba ingin keluar
hingga akhirnya satu dua dan air mata yang keluar semakin banyak, seperti derasnya air terjun, tubuhku lunglai aku tak
bisa berfikir, yang ada dibenak ku wajah denur dan wigan berputar silih
berganti, aku remas kertas yang sedari tadi ku pegang itu foto wigan yang
paling aku suka ketika dia tertawa dan aku mengambil ekspresi muka nya itu,
kenapa selalu seperti ini? Pada akhirnya aku harus jatuh cinta diam diam,
menyimpan rasa lebih dalam, dan semakin engan bicara cinta seperti orang bisu yang
lupa bagai mana caranya bicara, entah lah semua rasa seakan bercampur menjadi
satu entah aku haus sedih atau bahagia, ketika orang yang selalu menemaniku
selama 2 tahun belakangan ini tertawa dengan antusiasnya dan setitik kebahagian
terpancar dari mukan nya. Aku harus bahagia ? tentu aku bahagia tapi beda
dengan hati dan naluri ku, hati dan naluriku seperti di terkam ribuan pedang ,
iya pertanyaan pertanyaan yang terlontar dari mulut denur sama tajam nya
seperti pedang .
***
Sinar
mentari mulai memasuki celah kamar ku, pagi ini aku seperti kehilangan nyawa,
separuh dari jiwa ku hilang dan melayang di bawa sahabat ku sendiri, apa ini
salah aku karna terlalu banyak diam ? dan terlalu engan bicara? Entahlah pagi
ini untuk berangkat sekolah saja tak ada semangat sedikit pun, namun langkah
ini tetap memasuki sekolah tercinta ku ini, pagi ini aku memilih menunggu bel
masuk di taman tidak seperti biasanya menunggu denur di kantin, aku mulai
menulis di secarik kertas “apa ini suatu
rasa yang harus ku kubur kembali? Apa ini rasa yang harus aku lenyapkan? Apa
ini suatu rasa yang harus ku paksa pergi?” tangan ku seketika lunglai apa ini yang akan
menjadi luka baru? Semantara luka lain pun belum sembuh terobati ? apa ini akan
menjadi air mata yang menemani kesendirian ku ?
atau air mata karna lelah di buat menunggu, lelah di buat kecewa, dan
lelah memuja bahkan lelah jatuh cinta diam diam ?, bel masuk telah berbunyi aku
segera pergi menuju kelas, hari ini fokusku hilang aku tak lagi mendengar dan
memperhatikan apa yang di bicarakan guru sosiologi itu di depan, denur pun tak
berhenti membicarakan wigan membuat otak ku seakan meledak dan semua seakan
ingin ku muntahkan semua di hadapan denur, semua rasa yang aku simpan ini
seolah meminta mulutku berbicara,tapi nyali ku tak begitu besar rasa takut
membuat denur kecewa justru itu lebih besar, hati ku seperti terhempas
kedasar samudra ketika denur
bilang “ta menurut lo wigan itu gimana sih?” “keren kan? Ganteng kan? Semua
cewe pasti suka” waktu seakan berjalan
lambat, semua ucapan denur barusan berulang ulang menghampiri telinga ku,
berdengung membuat aku ingin tuli seketika agar aku tak mendengar setiap ucapan
denur yang jelas jelas membuat aku sakit, dan akhirnya pelajaran hari ini
selesai aku dan denur pergi menuju parkiran mengantarkan denur yang entahakan
pulang bersama siapa, yang pasti rasa takut ku kembali menjelma, apa dia akan
pulang bersama wigan ? ya tepaat sekali dia pergi menghampiri wigan aku berdiri
mematung melihat ini semua, setelah aku meminta uttuk ttuli dan bisu sekarang
apa aku harus meminta kepada tuhan agar aku buta dan tak bisa melihat pria yang
aku puja ini bersama sahabat ku sendiri ?,aku pergi berlari menjauhi mereka air
mata ku mulai berlomba lomba keluar, entah kesakitan apa lagi yang harus aku
terima dari sosok yang ku cinta ini, apa aku memang harus menahan semua nya
dalam diam hingga aku tak lagi bisa diam ? ingin aku berontak pada diri ku
sendiri memaki diriku sendiri karna aku terlalu engan bicara, kesakitan di masa
lalu ini membuat aku seperti orang hidup tapi tak bisa menikmati semua nya,
yang aku bisa hanya menikmati kesendirian iya kesendirian dan mungkin mulai
terbiasa dengan kesendirian, apa ini maksud dari kata kata denur “jangan
terlalu diem loh ta akhirnya nyesel sendiri” entahlah pikiran ku kalut air mata
ku tak bisa ku tahan aku seperti terjebak di dua jurang ketika aku harus
melangkah aku pasti akan tetap kehilangan dan akan tetap merasa sakit, tangis
ku semakin menjadi jadi entah aku harus melabuhkan tangis ini pada siapa, luka
ini terlalu banyak, kesakitan ini teramat sering aku alami, “kenapa? Hapus air
mata nya pake ini” suara berat itu tak asing di telinga ku suara wigan ia itu
suara wigan, ia duduk di sebelah ku dngan sapu tangan yang ia bawa ia menghapus
tangisku aku menatap matanya dalam dalam, apa maksud dari semua ini ada getaran
hebat di dalam hati ku tapi getaran yang akan berujung pada sebuah tangisan
yang mungkin lebih dari ini, aku menepis tangan nya dan pergi berlari
meninggalkan dia yang bingung melihat ku pergi meninggalkan nya. Langkah ku
semakin cepat aku berusaha dengan keras mengubur semua tentang wigan aku
berusaha dengan amat sangat untuk melupakanya tapi sungguh entah ini adalah
cerita yang paling lama ku pendam, hingga seribu langkah aku menjauh dari nya
bayang nyapun tetap menghampiri.
Air
mata ku kembali berlomba keluar, ada sesak yang mendalam “ta lo dimana tiba
tiba ngilang” tiba tiba sms dari denur
memenuhi layar handphone ku, berkali kali ia menghubungiku lewat sms bahkan
beberapa kali pun dia menelpon ku, tapi aku tidak mengubrisnya sedikit pun,
yang aku rasakan hanyalah sakit sakit yang mendalam, ketika aku mencintai
selalu ada luka baru yang menghampiri, “ta denur ada di luar katanya mau ketemu
“ teriak ibu ku di luar kamar sambil mengetuk ngetk pintu kamarku pelan “yaudah
mah suruh masuk aja” jawabku dengan nada ketus
“ta
ta ini aku denur” “yaudah
masuk aja nur” jawablku mempersilahkan ia masuk
Entah
denur kaget atau entah karna apa yang pasti ketika dia masuk kedalam kamarku
pun ia langsung berhambur memeluk ku, segudang pernyataan pun satu persatu
terlontar dari mulut nya, tapi aku justru tak menjawab nya, aku hanya terisak
mendengar semua pertanyaan nya, apa dia tidak pernah merasa bahwa sahabat nya
ini mencintai orang yang selalu bersama nya, walau pun aku tidak pernah tau apa
mereka punya hubungan khusus ataupun tidak yang pasti ketika mengingat itu ada
luka yang tergores
“kita
ini sahabat kan ta, cerita dong ta jangan kaya gini terus, emang ga cape” denur
menatap ku lekat lekat memaksaku untuk bicara, bicara tentang hal yang tak
pernah aku bicarakan padanya, aku kembali terisak “aku pernah jatuh cinta namun
di kecewakan aku sering dibuat menunggu lalu di khianati aku cape” denur
menggenggam tangan ku “kenapa ga bilang ta”denur berkata pelan “gue takut
bicara cinta, gue takut dengan semua hal yang membuat gue tertawa tapi ternyata
juga mendatangkan luka” jawab ku sekenan nya
“udah
nanti kalo lo udah siap cerita, gue siap kok besok kerumah gue yang satu lagi
ya ta” ajak denur menghapus air mata ku, aku mengangguk pelan ternyata dia
sahabat yang sabar dengan semua teka teki ini, tidak pernah lelah melakoni
semua nya justru ia tetap setia menerka nerka perasaanku mencari tau dimana letak
tawa dan tangis yang sering aku sembunyikan
Ke
esokan pagi aku sudah ada di depan rumah nya, beberapa kali aku pijit bel rumah
nya dan akhirnya pun ia datang”hey ita prawita udah ada di depan toh, masuk
masuk ta” ajak nya menarik tangan ku pelan
Aku
tersentak kaget, rumah ini di penuhi
foto foto denur dan wigan aku memang pertama kali memasuki rumah kedua nya ini,
yang sering ia ceritakan namun baru pertama kali nya ia bawa aku masuk kesini
setiap lorong ruangan ini di penuhi foto wigan dan dirinya, aku tersentak
ketika melihat foto keluarga mereka apa mereka bersaudara ? tiba tiba
pertanyaan itu terlontar dari otak ku aku berusaha menanyakan itu tapi bibir ku
kelu tak bisa bergerak aku hanya menatap satu persatu bingkay yang menghiasi
foto foto mereka
“ini
tuh wigan cowo yang sering nganterin gue dia sepupu gue, dan ini rumah nya”
seru denur
Mata
ku seketika melotot ini adalah istana seorang arjuna yang aku dambakan ? ya
tuhan tubuh ku lunglai tapi sebentar dimana dia? “eemm nur wigan brahmantoro itu
kls ipa 2 kan kls tiga sekarang dan dia keluar tahun ini juga kan ?” beberapa
pertanyaan ku membuat dahi denur berkerut “segitu perhatian nya sama wigan
sampe hapal semuanya” seru denur meledek ku
“tapi
ada satu yang lo ga tau dia diam diam suka sama cewe yg selalu liatin dia kalo
latihan basket dan dia juga suka liat cewe itu di taman, gue kira lo deh cewe
nya” tambah denur membuat aku terkaku
“ah
ngawur kamu”
“tapi
dia udah di jodohin sama orang tua nya ta, jadi ya gitu walaupun dia suka sama
cewe yg sering dia lihat di taman, sekeras apa pun usaha itu tetep sia sia”
Tiba
iba air keluar dari pelupuk mata ku ada sakit yang mendalam ketika aku tau
cincin yang melingkar kelak di jari manis nya itu bukan atas nama aku melain
kan atas nama orang lain
Aku
usap air mata ini pelan agar denur tidak pernah tau, bahwa wanita itu adalah
aku dan dia adalah sosok yang aku kagumi wigan brahmantoro, setidak nya aku tau
cinta ini tak bertepuk sebelah tangan dan setidaknya aku tau cinta ini terbalaskan
meski akhirnya ku tetap harus bertahan dalam diam, mengangumi nya dari kejauhan
dan jatuh cinta diam diam, aku rasa semuanya lebih indah seperti ini hingga
waktu yang menentukan takdirnya bahwa aku harus bertahan dalam diam atau sama
sama melabuhkan kasih bersama nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar